Puluhan Pimpinan Ormas Yang Tergabung di Bamus Betawi, Hadiri Rapat Pimpinan Bamus Betawi Tahun 2026
JAKARTA, MCNNUSANTARA.COM – Badan Musyawarah (Bamus) Betawi menegaskan pentingnya memperkuat konsolidasi internal organisasi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) masyarakat Betawi melalui pendidikan dan pengembangan wawasan.
Pesan tersebut mengemuka dalam rapat pimpinan Bamus Betawi yang digelar di Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Dalam pertemuan itu, sejumlah tokoh Betawi menyoroti pentingnya menjaga kekompakan organisasi serta memberikan ruang lebih besar bagi generasi muda Betawi untuk berkembang.
Salah satu pesan yang disampaikan dalam forum tersebut adalah agar masyarakat Betawi tidak hanya mengandalkan ikatan kultural, tetapi juga memperkuat kapasitas melalui pendidikan.
“Kalau pendidikan bagus, wawasan keilmuannya bagus, pelan-pelan dia bisa bersaing,” ujar salah satu tokoh dalam forum tersebut.
Menurutnya, keberhasilan seseorang dalam menempati posisi strategis tidak datang secara instan. Dibutuhkan proses panjang, pendidikan, pengalaman, serta kemampuan untuk menghadapi persaingan.
Karena itu, ia mendorong agar program pendidikan dan pengembangan SDM, termasuk peluang beasiswa, benar-benar dimanfaatkan untuk melahirkan generasi penerus Betawi yang memiliki kompetensi dan mampu bersaing di berbagai bidang.
Ia mengibaratkan generasi Betawi tidak boleh seperti “layangan singit” yang baru naik sebentar kemudian berputar dan kehilangan arah. Sebaliknya, generasi muda Betawi harus memiliki kemampuan untuk terus naik dan berkembang.
“Betawi sekarang, yang makan boleh ngumpul terus, tetapi urusan yang lain kita juga harus unggul. Makan boleh ngumpul, tetapi ilmu dan wawasan harus unggul,” katanya.
Utamakan Persamaan, Bukan Perbedaan
Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengingatkan para pengurus dan tokoh Betawi agar tidak memperbesar perbedaan di antara organisasi maupun individu.
Menurut dia, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam organisasi. Namun, perbedaan tersebut seharusnya tidak menghambat kerja bersama untuk kepentingan masyarakat Betawi.
“Kalau kita mau ngomongin perbedaan saya dengan Bang Riano, itu banyak sekali. Tapi ngapain kita omongin perbedaan? Kita ngomongin hal-hal yang produktif,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen Betawi mengembangkan sikap saling berprasangka baik atau husnuzan. Persoalan internal, kata dia, sebaiknya diselesaikan secara internal tanpa diumbar ke publik, terlebih melalui media sosial.
“Kalau ada urusan di antara kita, kita selesaikan di antara kita saja,” imbuhnya.
Menurut dia, penyelesaian persoalan secara langsung melalui komunikasi dan silaturahmi jauh lebih baik daripada memperbesar masalah di ruang publik.
Konsolidasi Organisasi
Penguatan konsolidasi internal juga menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan tersebut. Para tokoh menilai organisasi masyarakat Betawi memiliki potensi besar untuk menjadi wadah pelestarian budaya sekaligus memperkuat persatuan masyarakat Betawi di Jakarta.
Seorang pejabat yang hadir dalam forum tersebut mengatakan, berdasarkan pengalamannya dalam organisasi kemasyarakatan, keberadaan wadah organisasi dan kepengurusan merupakan modal dasar.
Namun, modal tersebut harus diikuti dengan kesamaan visi, misi, tujuan, serta kemampuan menjaga soliditas anggota.
Ia juga mengingatkan agar Bamus Betawi tidak mudah terpengaruh oleh berbagai persoalan internal dengan kemunduran nya Sekjend Bamus Betawi Tajudin Aditya, tegas Riano.
“Jangan pernah terpengaruh dengan berbagai permasalahan. Suatu organisasi atau dalam kehidupan kita, kalau sudah mau sukses, mau berhasil, pasti timbul permasalahan,” ujarnya.
Menurut dia, tantangan ke depan akan semakin besar, sehingga konsolidasi dan persatuan menjadi hal penting bagi organisasi Betawi.
Tegaskan Posisi Ketua Umum
Dalam rapat tersebut juga dibahas mengenai penguatan posisi dan kewenangan ketua umum terpilih dalam menjalankan roda organisasi.
Forum menegaskan bahwa ketua umum memiliki kewenangan sesuai AD/ART dalam menentukan dan menyusun kepengurusan organisasi.
Sejumlah peserta juga mengacu pada fakta integritas yang pernah dibuat Sekretaris Jenderal Bamus Betawi, yang antara lain memuat komitmen untuk mematuhi dan menaati AD/ART serta ketua umum Bamus Betawi.
Dalam pembahasan rapat, ditegaskan pula bahwa keputusan organisasi harus dikembalikan kepada mekanisme dan aturan yang berlaku di internal Bamus Betawi.
Peserta rapat menilai penguatan kewenangan tersebut diperlukan agar roda organisasi dapat berjalan efektif dan tidak terhambat oleh persoalan kepengurusan.
“Ini memperkuat posisi kita, karena ketua terpilih mempunyai hak dan kewenangan,” ujar peserta rapat.
Forum kemudian menekankan pentingnya menjaga keputusan bersama dan memberikan ruang kepada ketua umum untuk menjalankan kewenangan organisasi sesuai ketentuan yang berlaku.
Bangun Generasi Penerus
Selain persoalan struktur organisasi, forum juga menekankan pentingnya menyiapkan generasi penerus Betawi.
Para tokoh berharap lahir anak-anak Betawi yang tidak hanya aktif dalam kegiatan komunitas, tetapi juga mampu menempati posisi strategis di pemerintahan, dunia profesional, pendidikan, maupun berbagai bidang lainnya.
Menurut mereka, seseorang yang memiliki kompetensi dan berhasil di tingkat nasional tidak harus selalu aktif dalam organisasi Betawi. Selama memiliki darah dan identitas Betawi, keberhasilan tersebut tetap menjadi kebanggaan bersama.
“Ketika dia anak Betawi, kita ingatkan, ‘Eh, lu Betawi juga ya.’ Lebih enak begitu,” ujar salah satu tokoh.
Dengan demikian, semangat kebersamaan masyarakat Betawi tidak berhenti pada kegiatan berkumpul, tetapi berkembang menjadi kekuatan dalam pendidikan, ekonomi, kepemimpinan, dan pengembangan SDM.
Pertemuan ditutup dengan doa bersama. Para peserta berharap konsolidasi yang dilakukan dapat memperkuat Bamus Betawi sekaligus menjadi momentum untuk membangun masyarakat Betawi yang semakin solid, berpendidikan, dan mampu bersaing. (Red-Cha)
Sumber : Divisi Humas MIO Indonesia DKI Jakarta
