RDP Hanya Dijadikan Ajang Pencitraan Pihak RS Misi Lebak, Dimuka Komisi lll dan Dihadapan Kadinkes Serta LSM GMBI
Lebak, MCNNUSANTARA.COM – Rapat Dengar Pendapat (RDP) di ruang Badan Musyawarah (BAMUS) DPRD Kab. Lebak beberapa waktu lalu, yang dihadiri Direktur Rs Misi, Dinas Kesehatan, BPJS, Lsm GMBI dan jajaran Wakil Rakyat Komisi lll, menjadi tak berbobot dan bulsit. Rabu, (14/10)
Fakta-fakta kinerja yang disampaikan Direktur RS Misi Lebak, bahkan sempat mendapat apresiasi oleh jajaran LSM GMBI Distrik Lebak, tidak sesuai dengan realita. Buktinya jelas, sosok ibunda Ketua Lsm GMBI itu sendiri yang mengalami kejadian tak sepadan dengan ucapan sang Direktur di ruang RDP.
Kronologis yang dialami ibu kandung pentolan GMBI DPD Lebak ini, seolah membuka borok atas bobroknya pelayanan Rs Misi yang diduga semena-mena atas kebijakan sepihak. Lantaran pasien belum genap 1 hari dirawat, sudah diminta pulang, tentu hal ini membuat King Naga sebagai anak dari pasien geram.
“Jika orang lain yang mengalami hal ini, mungkin saya masih harus melakukan rangkaian investigasi, tapi ini saya sendiri yang mengalaminya. Jadi saya tak perlu menduga lagi bahwa Rs Misi bobrok pelayanannya.” Ketus naga.
“Masa ia, pasien masuk belum juga genap 1 hari sudah disuruh pulang, padahal ibu saya harus dilakukan oprasi bedah daging jadi. Dengan penyampaian bahasa yang nggak masuk akal, “Nunggu hari jadwal oprasi dilakukan ” Apakah ini namanya layanan intensif,” tanya naga kesal.
Naga juga menyebut, kalau Ruang Dengar Pendapat yang digelar di DPRD Lebak itu, hanya jadi ajang pencitraan dan bualan sang direktur,”Menyesal saya beri apresiasi atas penyampaiannya di forum pendapat, kalau faktanya hanya sebuah pencitraan dan bualan saja, dengan menyebut Rs yang dirinya pimpin sudah sesuai SOP dan mengedepankan pelayanan terbaik untuk masyarakat.”ungkap nya tutup.
Hal lain juga disampaikan Dewan Kehormatan LSM GMBI DPD Lebak, H. Yantoz Rabanza dirinya menyayangkan hal ini terjadi.
“Saya menilai jika pemulangan pasien pada hari yang sama pada saat pasien dirawat, ini jelas tidak bisa dikategorikan pelayanan yang baik. Karena banyaknya pasien yang dirawat yang jelas-jelas membutuhkan pelayanan pengobatan, dalam waktu sesingkat itu tidak mungkin pasien bisa mendapat pelayanan maksimal, sangat disayangkan.”ujarnya.
“Harusnya langkah-langkah sebelum tindakan oprasi dilakukan, biasanya pasien tetap mendapat perawatan, istirahat yang cukup dan tetap di baringkan di ruangan untuk pemulihan stamina menjelang oprasi, bukan malah disuruh pulang,” pungkas Yantoz.
Hkz
